Tawuran Baik, Prestasi Buruk

Aneh atau tidak, kedengarannya memang aneh jika harus disandingkan apalagi untuk di bandingkan antara tawuran dan prestasi, bayangkan saja jika keduanya bisa berimbang atau prestasilah yang lebih ditonjolkan dimana-mana. Iya, kusebutnya dimana-mana supaya terlihat atau paling tidak on the way viral.

Ketika sesuatu itu bersifat prestasi, sangat sulit mendapatkan ruang untuk di sampaikan ke publik. Ini loh yang kami dapatkan, beginilah output dari hasil bapak/Ibu mendidik kami. Sulit, sukar dan tidak mudah, kami anggapnya seperti itu, untuk menjual dan memahamkan kepada khalayak, tidak segampang mengundang mereka untuk datang pada saat terjadinya tawuran.

Tidak ada niat lain, bahwa tidak semua yang ada dibenak anda itu seperti itu, itu bagian terkecil saja. Kuharap anda mengerti dengan kata-kataku yang tidak beraturan sama sekali.

Di kesempatan yang sama, disaat teman-teman lagi berjuang membawa nama baik identitas mereka juga sibuk bagaimana memuaskan diri untuk membuat identitas itu terpojok, buruk bahkan hina dipandang oleh suatu kelompok tertentu.

Nah, kelompok tertentu ini wajar menilai hal itu, mereka punya bukti dan data yang cukup akurat untuk membuktikan realitas yang terjadi. Jadi, wajar saja.. Ketika identitasmu mulai melekat, lalu kamu berjuang masuk pada kelompok tertentu. Kamu anda malah tidak diterima, kenapa? Sekali lai wajar yaa menurut saya. Itu, karena ulah ketidaksantunan anda menjaga nama baik sendiri.

Menyesal, mungkin iya..!!! Berpuas diri, mungkin juga iyaa..!!! Yah, cukup kami yang merasakan bagaimana positif dan buruknya apa yang telah anda perbuat.

Dengan modal nekat didukung kebobrokan moralitas, sekali lagi mereka telah berpuas diri. Hari ini mereka menang, melihat kiri kanan, atribut alam melayang-layang, fasilitas umum seolah berteriak, JANGAN, Aku Tidak Salah Apa-Apa.... Atlet panahan muncul dimana-mana, entah kapan mereka latihan, rupanya ia sangat mahir memainkannya.

Bahkan, oknum ilmuan yang salah fungsikan keahlian merakitnya, hingga mereka yang pura-pura feminim disaat kondisi tengah tak bersahabat, mereka tetap seolah sahabat yang baik.

Sungguh, sebuah ilusi drama yang indah, hanya saja sutradaranya kurang pandai dalam menulis naskah, akibatnya kadang aktornyalah yang disalahkan.

Siapa sangka, semua terjadi begitu saja, ada alur ada gerbong dan ada waktu kapan itu dihentikan.

Mereka yang tidak tau apa-apa, mereka sedang berjuang mengasah otak sesuai bidang ilmunya, Dan, mereka mulai terusik. Mereka sesekali kadang memikirkan, mungkin inilah yang sulit untuk dipahami. Tapi sulit atau tidak, mereka tidak menerima hal seperti ini. Mereka tetap belajar sementara film masih berlangsung. Film dengan naskah dan kameramen yang tertata dengan baik.

Dan, siapa yang akan disalahkan? Pembuat naskah? Aktor? Figuran? Atau mereka yang terlalu cepat berjuang mencari identitas yang baik?

Aku dan saya juga kurang paham, hanya saja paling tidak saya mengajak anda, anda dan kamu untuk bertindak atas dasar prakarsa bermanfaat atau tidak.

Bermanfaat yang disifatnya positif (jangan sampai di plesetkan lagi kan?)

Saya rasa anda paham, sesekali orang tua anda bilang kamu sudah tua, besar dan dewasa nak. Kamu tau mana yang baik dan mana yang buruk, saya yakin kamu bisa melakukan yang terbaik buat dirimu dan orang sekitarmu.

Tawuran = Baik
Prestasi = Buruk

(Melihat pas bunga yang cantik, bisa dinilai dari berbagai sudut).






Previous
Next Post »
Thanks for your comment