Taman Nasional Bantimurung, Air Terjun Yang Bergemuruh : Sejuk dan Meninggalkan Banyak Kenangan

Jalan-jalan atau travelling ditelinga para pemirsa adalah sesuatu yang begitu menyenangkan, penuh dengan kejutan dan hal-hal baru terkait destinasi yang akan dituju dan tentunya rasa penasaran yang bergejolak, seperti apa dan bagaimanasih tempat yang akan aku tuju ini ? tidak terkecuali untuk kali pertamanya aku menginjakkan kaki di The Kindom of Butterfly Bantimurung sebuah taman nasional yang terletak di kabupaten Maros. Tempat ini telah lama saya dengar, dan baru kali ini saya menginjakkan kaki ditempat ini ditemani Alan, teman asal Banda Aceh, tempat paling ujung Indonesia.

Awal mulanya aku dan Alan bertanya ke penduduk setempat, kemana jalur yang harus kami tempuh untuk sampai di TN Bantimurung, setelah mendapat beberapa penjelasan dari penduduk setempat tentang sedikit cerita TN Bantimurung, akhirnya kami memasuki kawasan destinasi wisata tersebut.

Setelah melewati gerbang sekitar 1KM menuju tempat yang kami inginkan akhirnya kami sampai ditempat registrasi, tempat para pengunjung membeli tiket.  Dari jauh kami melihat harga yang ditawarkan tempat wisata ini menurut kami lumayan mahal sebagai seorang mahasiswa, yah 25 ribu untuk tourist lokal dan 225 ribu untuk tourist internasional. Terbilang cukup jauh, namun kami tidak mempermasalahkan itu, kami hanya sedikit berhenti lalu bertatapan sejenak dan tertawa bersama melihat harga yang signifikan tersebut.

Sebelum kami beli tiket, kami mencicipi dulu makanan khas maros, kanre birelle,  nasi yang dimasak lalu dicampur jagung tersebut terasa nikmat dan tekstur jagung yang begitu pas dipadukan dengan Indomie rasa soto ditambah telur dan sedikit daun bawang yang tentunya begitu nikmat kami santap disore hari.

Setelah selesai makan akhirnya kami pun masuk setelah diberi tiket diloket, pada perjalanan masuk aku mulai merasakan hawa sejuk dan aliran air sungai dan suara air terjun yang bergemuruh begitu menggoda sehingga membuat kami berlari-lari kecil karena tidak sabar ingin melihat bagaimana pemandangan yang ada didalam.

Berjalan sekitar 20 meter kita akan menemui mesjid yang berada dalam lingkaran dstinasi wisata alam bantimurung, uniknya mesjid ini tepat bersebrangan dengan telaga bidadari, yang konon katanya air telaga bidadari itu mampu menyembuhkan penyakit dan membuat para gadis semakin cantik ketika mandi di ditelaga bidadari.

Setelah telaga bidadari kita akan menemui tugu kupu-kupu terbesar yang ada daerah wisata ini. Asal muasal adanya bantimurung itu dimulai sejak awal abad ke-19, dimana Pathoeddin Daeng Paroempa menjadi karaeng simbang kala itu, karena bertindak sebagai raja dengan kekuasaan yang dimilikinya sang raja memerintahkan untuk membuat jalan dengan maksud membela daerah hutan belantara dari berbagai ancaman. Selain itu, agar mobilitas dalam menjangkau hutan belantara dapat berjalan dengan lancar.
Pada saat pembuatan jalan menuju hutan belantara, tiba-tiba pekerjaan tersebut dihentikan karena rakyat mendengar suara gemuruh begitu besar yang datangnya dari arah hutan belantara. Pembuatan jalan yang dipimpin langsung oleh sang Raja, langsung dihentikan. Kemudian raja memerintahkan pegawai kerajaan untuk mengecek suara gemuruh dari hutan belantara tersebut.

Setelah pegawai kerajaan kembali, ia lalu melaporkan kepada Karaeng apa yang ditemuinya di hutan belantara. Karaeng bertanya pada pegawai kerajaan.

“aga ro merrung ?” (Suara apakah itu?) Tanya karaeng.
“Benti, Puang”(Air, tuan) Jawab pegawai kerajaan.

Dari situlah sang raja bergegas dan menuju tempat suara itu berasal, sesampainya disumber suara tersebut, sang raja sangat takjub melihat panorama air terjun yang berasal dari hutan belantara, hingga akhirnya tempat itu dinamakan Bentimerrung (air  yang bergemuruh). Oleh karena itu, mulai saat itu juga daerah tersebut dinamakan bentimurung yang sekarang dikenal dengan sebutan bantimurung.

Sehingga rencana pembuatan jalan yang perintahkan oleh Karaeng Simbang tidak dilanjutkan, akan tetapi dibuat sebuah perkampungan baru yang terpisah dengan daerah simbang dan daerah itu dinamakan Bantimurung. Bantimurung dan Simbang hingga saat ini menjadi sebuah kecamatan pada daerah pemerintahan Kabupaten Maros.

Bantimurung saat ini begitu dikenal masyarakat Indonesia terutama para penikmat wisata alam setelah ditetapkan sebagai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Nah, setelah berada ditugu kupu-kupu, pengunjung sudah bisa menyaksikan air terjun yang jatuh pada ketinggian sekitar 30 meter, dengan kolam tempat berenam di sekitarnya serta gazebo-gazebo tempat bersitarahat para pengunjung.

Di sepanjang jalan dari telaga bidadari menuju air terjun terdapat tempat duduk untuk bersantai sambil menikmati wisata alam bantimurung ini, sekitar 20 meter dari tugu pengunjung juga dapat menjumpai Hotel Bantimurung yang bisa digunakan para wisatawan untuk menginap.

Berjalan mendekati air terjun, setelah hamparan air sungai yang terlihat begitu sejuk, wisatawan juga ditawari untuk melihat air terjun dari atas melalui tangga yang telah dibuat menuju gua batu yang berada sekitar 700 KM masuk kehutan. Diatas tangga tentu kita akan melihat air terjun dari sudut pandang yang berbeda, bayangkan saja kamu tengah berada pada ketinggian dan melihat kebawah aktifitas wisatawan yang tengah berenang serta pohon-pohon dan batu kars yang tertata rapi.

Tangga dengan panjang sekitar 700 meter dipinggir sungai dan dililit kayu besar serta bebatuan yang cukup unik disekitarnya menjadi tempat favorit untuk mengabadikan momen, selain itu di tempat wisata ini juga terdapat banyak khas bantimurung seperti kupu-kupu yang telah diawetkan dalam sebuah bingkai dengan variasi warna yang berbeda-beda.


Tidak jauh dari rtempat ini, sekitar 200 meter dari gerbang taman nasional, terdapat pula panangkarang kupu-kupu, dari atas sana kita bisa melihat rumah-rumah penduduk dari kejauhan dan pemandangan batu kars dari jarak yang sangat dekat.

Previous
Next Post »
Thanks for your comment