RELAWAN ADALAH THE REAL PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

Berbagi adalah hal yang paling menyenangkan. Apakah berbagi ilmu,  pengalaman, kesuksesan, perjuangan, pun berbagi dalam hal keuangan bagi mereka yang tidak mampu.

Menjadi relawan adalah salah satu impian saya sejak kecil, berawal dari membaca Novel Laskar Pelangi yang menceritakan tentang betapa sulitnya guru disana dan hanya ada beberapa guru yang mengajar dengan tulus tanpa diberi upah.

Sejak SMA, saya sudah menekuni bahasa asing, misalnya Korea. Dan mulai mengajar secara online di Facebook. Saat itu peminatnya banyak, murid saya juga membludak hingga puluhan dari berbagai penjuru Indonesia. Banyak yang nanya, “kalau ngajar siapa yang gaji?” biasanya saya tersenyum dan bilang bahwa saya begitu tertarik dengan dunia mengajar sehingga saya tidak memungut biaya apapun dan tidak digaji siapapun untuk mengajar. Dengan pelajaran gratis dan peminat yang terus meningkat semakin membuat saya semangat untuk mengajar secara ikhlas dan sukarela.

Hasilnya tidak bisa djelaskan dengan kata-kata. Seperti beban berat berkarung-karung, lepas dan lenyap begitu saja setelah saya mengajar mereka. Kata orang, perasaan itu timbul karena keikhlasan pada apa yang saya lakukan. Semenjak saat itu saya begitu semangat mencari wadah untuk saya beraktivitas sebagai relawan muda.

Di semester 7 ini, saya mulai terjun ke organisasi sosial. Kebetulan organisasi yang saya terjuni adalah organisasi dibawa binaan UNICEF. Fokusnya pada Ibu dan anak. Saya menyukai beraktivitas dengan anak-anak. Alasannya simpel. Anak-anak jika dihadapkan dengan hal baru dan orang baru mereka begitu antusias dan excited. Itulah mengapa ketika pertama kali saya menjadi relawan di sekolah yang ditempatkan untuk saya, saya tidak menemukan kendala apapun.

Jaman sekarang, banyak yang bilang Guru sudah banyak yang meninggalkan kesan pendidik tanpa tanda jasa, oleh istilah barunya mereka sekarang disebut pendidik pengejar sertifikasi. Itu tidak salah. Tapi bukan berarti semua guru juga begitu. Namun kenyataannya memang begitu yah hihi ^^. Jadi semenjak saat itu, saya merasa bahwa mereka yang perlu dinobatkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa adalah relawan. Apakah relawan pengajar, medis dan sebagainya.

Mengingat menjadi seorang relawan, kita wajib punya waktu untuk berbagi, mengeluarkan tenaga ekstra, membagi ilmu yang kita punya, menolong orang, tanpa diberi upah oleh siapapun. Tapi dengan hal itu, mereka justru terus menjadi relawan tak peduli ada upahkah, tidakkah.
Terkadang kedua orangtua saya memarahi saya dengan mengatakan bahwa berhentilah membuang waktu dengan hal-hal yang tidak produktif. Padahal , menjadi relawan kita tidak dihadiahi uang, namun kita dihadiahi sesuatu yang bahkan lebih berharga dari sekedar uang. Namanya kepuasaan hati. Mungkin bagi sebagian orang, menjadi relawan yah biasa-biasa saja, tapi bagi saya, menjadi relawan itu punya daya tarik sendiri. Apalagi jika kita baru saja berbagi ilmu kepada anak-anak dipedalaman yang bahkan tidak tersentuh oleh perhatian pemerintah. Rasanya benar-benar berbeda. Apalagi jika dikita dihadapkan dengan antusiasme anak-anak desa yang siap belajar.

Wow, there is something different in your heart!
Anak-anak, senyum mereka, tawa dan canda mereka begitu menyemangati diri saya secara pribadi dan membawa aura positif berupa semangat begitu saya memulai aktivitas relawan saya. Dan pengalaman menjadi relawan ini tentu sangat menyenangkan dan takkan terlupa.

Sekarang bahkan saya kembali terjun di lebih dari 3 kegiatan sosial yang berfokus ke pedalaman membantu anak-anak lepas dari butanya pendidikan.

Banyak dari pemuda Indonesia mengeluhkan ini itu tentang sistem pendidikan yang tidak merata. Daripada mengeluh, mengapa tidak terjun langsung saja? Terkadang kita terlalu membebankan segalanya kepada Pemerintah. Padahal sebagai warga negara spesialnya para pemuda sebagai agen perubahan, mencerdaskan anak bangsa adalah tugas kita bersama. Jadi kalau-kalau anda melihat daerah anda minim akan perhatian pemerintah, mengapa anda tidak langsung terjun dan merubah apa yang ada? Berhentulah meminta dan marah terhadap apa yang bisa negera berikan kepadamu. Tapi coba gali ingatanmu, apa yang bisa kamu berikan untuk negaramu?

Menjadi relawan pendidikan untuk anak adalah salah satu kontribusi kecil saya untuk Indonesia. Lalu, bagaimana denganmu? ^^

Setiap pribadi memiliki caranya masing-masing. Dan untuk itu, yuk buat rencanamu jadi nyata dan ayo bantu negara membantu pendidikan menjadi merata.


Salam Hangat
AGWIYUMI LEE
Mahasiswa Berprestasi Universitas Indonesia Timur
Previous
Next Post »
Thanks for your comment