Pemuda Sekarang? Kekinian

Fenomena anak muda zaman sekarang sangat rumit untuk di tafsirkan satu persatu, mereka memiliki idealisme tersendiri dalam memenangkan keinginannya. Tak jauh beda, ini sama halnya dalam hal hubungan antara seorang pria dan wanita. Masing-masing dari keduanya menghendaki sesuatu yang menurut mereka adalah kebenaran. Dan, kebenaran itu menjadi mutlak untuk didapatkan atas asas keinginan tercapainya idealisme mereka.

Banyak dari mereka bertingkah seolah dia adalah yang terhebat. Dan, ini bisa ditemui di golongan manapun, yang satu bertindak seperti ini dan yang satunya lagi bertindak seperti itu. Yah, katakan saja.!!! Sesempurna apapun sebuah golongan atau kelompok maka pasti didalamnya terdapat oknum yang memiliki idealisme yang sangat berbeda dari visi golongan tersebut.

Perbedaan itu menjadi sesuatu hal yang wajar, sebab itu adalah bagian dari proses pembelajaran memaknai sebuah persamaan.
Akan tetapi, tampil beda diantara golongan tidak selamanya berkonotasi negatif, selama perbedaan yang diciptakan menhasilkan i'tikad dan capaian yang bagus. Selama itu pula perbedaan itu menjadi titik kemenangan bagi mereka yang mampu menempatkan diri pada posisinya.

Namun, bagaimana dengan perbedaan yang keluar dari visi kelompok? Hal ini sama halnya ketika seorang pria dan wanita yang lagi saling jatuh cinta. Si pria mengutarakan isi hatinya, lalu si wanita menerima pria tersebut sebagai pasangannya. Nah, pasangan ini kemudian mengikat sebuah hubungan asmara, dan berkomitmen untuk menjalani kehidupan asmaranya agar tetap baik tanpa terkendala apapun. Akan tetapi, siapa sangka kalau salah satu diantaranya keluar dan memilih jalur yang berbeda? Tentu visi yang telah di rancang akannhancur berantakan. Kenapa?  Karena iya menciptakan perbedaan di dalam hubungan tersebut.

Yah, kurang lebih seperti itulah sifat remaja zaman sekarang. Pintar berorasi, pandai bernegosiasi, hidup penuh dengan kemudahan dan penuh dengan hasrat akan keinginan akan idealisme yang ditanam dalam dirinya.

Tetapi, mereka kadang lupa bahwa apa yang "saya" lakukan, dibalik semua peristiwa yang terjadi pada saya. Jika "saya" (coba direnungkan bersama) maka saya tidak lebih baik dari penguasa yang sedang saya kritik, tidak lebih baik dari penguasa yang saya caci maki dengan kajian yang telah saya lakukan, tidak lebih baik dari penguasa yang menebar janji-janji kepada rakyatnya.

Lalu, apakah saya pantas mencaci maki? Menkritik tanpa tau sopan santun? Mengarahkan kawan saya agar sepaham dengan saya? Men-doktrin yang labih dibawah saya agar mengikuti idealisme saya?

Sebenarnya apakah saya pantas?  Tolong dijawab sendiri.

Jika, yang pantas mencaci maki maka merekalah penguasa yang pantas mencaci maki karena melihat rakyatnya setiap hari selalu mengaungkan akan kesejahteraan bersama tapi enggang untuk berbuat dan berusaha merubah nasib,mengaungkan akan pendidikan yang merata, mengaungkan akan kesehatan yang layak.

Tetapi, mereka "pemuda" hampir tidak sadar kalau selama ini yang paling pantas dilakukan adalah mencari solusi dan menerapkan solusi itu secara perlahan-lahan.

Mereka terlalu sibuk mengurusi hal yang bukan urusannya, mereka terlalu sibuk untuk mengerjakan sesuatu diluar tanggungjawabnya. Dan, mereka kadang disibukkan dengan propaganda sehingga terhambat dalam "berkarya".

Kini, dimana pemuda yang di cari Soekarno? Keluarlah.!!!

Analisa anak beru deppa.
@yayanouht

Previous
Next Post »
Thanks for your comment