Senyuman-Mu, Manis!

Rupanya dia sangat menyukainya, dia sangat menginginkan ini terjadi, dia bahkan berangan-angan untuk sesuatu yang lebih jauh dari apa yang tengah terjadi. Ia nampak menikmatinya, ia tersenyum dan tertawa bahagia karena semuanya telah terjadi.
Dia menikmati setiap tetesan hujan yang jatuh di atap cafe itu, bahkan sesekali tetesan hujan itu masuk dan membasahi sudut-sudut cafe yang tak beratap. Cuaca kali ini rupanya memang agak bersahabat bagi para penjual mantel hujan, tentu penjual mantel sangat senang, siapa sangka mantelnya habis terjual dalam waktu sesingkat itu.
Yah sama halnya sesingkat pertemuan kita, tak perlu waktu lama untuk untuk menunggu dan saling terpisah, terpisah oleh jarak, waktu dan ruang yang berbeda. Kamu dengan duniamu dan aku dengan duniaku, Tapi entah apa yang kualami sekarang apakah mampu mempertemukan kita kelak? Yah harapku secepatnya kita bisa bertemu untuk waktu yang lebih lama.
Kamu dengan senyummu, senyum khas yang baru kutemui beberpa hari ini, sungguh indah. Telah lamu aku ingin menafsirkan identitas senyummu itu, namun semakin lama ku tatap semakin aku tak mampu menafsirkannya. Hingga ujung dari penafsiranku hanya membuat ku tersenyum akan anugerah tuhan yang dititipkan padamu.
Aku tak mampu lagi berkata-kata indah seperti dulu, mugkin kata-kata indah ku telah di rebut oleh orang lain. Tapi, jangan khawatir aku bahkan tau bagaimana berbuat yang lebih indah dari kata-kata indahku dulu. Kini aku pupus oleh teori, mungkin saatnya praktek, praktek terhadap apa yang "kita" rasakan.
Yah "kita" hanya butuh waktu untuk saling bersua lebih lama, sebab tidak ada keindahan diatasnya selain melihat senyum manismu dalam jarak 30 CM, yang mana hanya gelas dan gelasmu yang memisahkan kita.
Jadi?  Gimana menurutmu? Apakah kita harus seperti ini?  Atau kita saling memberi ruang untuk bersua lebih lama. Lebih lama dari pertemuan awal kita [kala itu ketika hujan turun].
..........
•○●
See u
Malam Minggu-erss
Previous
Next Post »
Thanks for your comment