Lapangan Merah Di Desaku

Sore ini ku langkahkan kaki menuju lapangan, yah lapangan itu adalah lapangan baru. Bekas berdirinya sekolahku dulu, antara ingin sedih atau bahagia, aku juga tak mengerti ataukah ini yang disebut teori perkembangan suatu desa.

mereka tampak menikmati, mereka senang dan mereka bahagia. sebuah ekspektasi yang diharapkan sebuah pemerintah tentunya. Namun, yang membuat aku tertarik menulis opini ini adalah untuk apa lapangan ini dibuat?  bukankah sudah ada lapangan desa yang bisa kita gunakan bersama-sama? dan bagaimana dengan banyak kebutuhan yang belum terpenuhi dan bahkan tidak terurus sama sekali? sebut saja pasar yang didirikan sekitar 10 tahun yang lalu, hanya di fungsikan pada saat diresmikan. Jalan desa yang terbilang masih sangat tidak terurus, sisi jalan yang tidak teratur dan keluhan masyarakat yang sini sana banyak terdengar.

bukan aku "anti" akan perkembangan suatu daerah, bukan tak suka bukan juga tak sepaham. Tapi jika ada hal lain yang lebih kita butuhkan, kenapa bukan itu yang di prioritaskan?  kenapa? ataukah kita hanya ingin melihat mereka tersenyum sesaat namun menderita perlahan-lahan?  sungguh sebuah sistem yang sangat di benci para pemimpin yang tulus. "formalitas" katanya.

kita berkembang itu adalah sebuah prestasi dan pencapaian yang luar biasa, harapan kita semua. tapi melupakan esensi pembangunan yang sebenarnya adalah hal yang tidak sepatutnya di jalankan.

sebuah cerita pada perusahaan roti siap saji, ada banyak beragam yang bisa kita cicipi dengan harga yang bervariasi tentunya, namun ada banyak hal di dalamnya, tapi hanya satu yang di pajang pemilik roti sebagai brand tokonya. yah, dengan gambar dan tulisan yang menarik. lalu ketika ditanya
semua orang mungkin akan menjawab hal yang sama "kamu ingin roti? rotinya sangat enak loh" rata-rata jawabannya "iya, boleh aku coba?"

walaupun sebenarnya ada banyak yang bisa kita coba, tapi untuk membangun brand dan popularitas perusahaan maka kita mengambil hal yang simple untuk disajikan, murah dan bisa dinikmati oleh pelanggan kapan dan dimana saja.

cerita ini tidak ada yang salah, sebab mereka bergerak pada perusahaan profit. iya benar profit, esensinya mencari keuntungan. jadi bagaimana kalau itu di terapkan pada situasi dan kondisi yang sifatnya non profit? ...

entah apa yang membuat mereka membuat sebuah keputusan yang menurut saya sangat hebat ini. sungguh hal yang menakjubkan. penuh sandiwara dan aktor yang hebat dibaliknya, sehingga kami "penonton" hanya mampu memaknainya dengan pandangan kami sendiri.

untuk mereka pembuat kebijakan, aku harap anda selalu mengedepankan kepentingan orang banyak, sebab aku tidak akan mengatakan bahwa aku tidak setuju dengan semua itu, hanya saja menjadikan kepentingan masayarakat diatas kepentingan utama adalah sebuah prestasi sekaligus ibadah sosial maka kelak yakin dan percaya, mimpi dan cita-cita kita semua dapat tercapai secara natural, netral dan tak berpihak. bukan "formalitas".

untuk menikmati hasil jerih payah ini, aku mecoba untuk ikut merasakan bagaimna sensasi baru ini. aku ingin tau bagaimna rasanya ada di jalur itu, tapi setelah aku tau rasanya aku ingin keluar sebelum waktunya berhenti. bukan aku payah atau menyerah, tapi ada hal yang lebih baik yang mesti di lakukan. apa itu?  coming soon :-)

Previous
Next Post »

1 komentar:

Click here for komentar
Thanks for your comment