Ini Tentang Seorang Gadis

Entah baru kali ini kumendapatinya dengan tingkah yang begitu aneh, seadanya, seolah tidak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi. Padahal ini belum masuk tahap dimana mereka saling bersua, memahami atau mungkin saling mengerti untuk waktu tidak seperti biasanya.
Tetapi, ia membuang harapan itu jauh, jauh dari pandangan yang sebenarnya. Jauh dari i'tikad baik, jauh dari harapan yang indah, Ia hilangkan dan egois dengan pemikirannya sendiri, bertahan dengan persepsinya, seolah semua yang ia pikirkan itulah kebenaran sejati.
Ia mulai mendengar bisikan-bisikan aneh, bisikan tentang bagaimana laki-laki itu, tentang apa yang telah di lakukan laki-laki itu, yah semua terlintas di benaknya, tentang masa lalu laki-laki itu.
Kiri kanan, semua tatapan, suara-suara akan kepastian yang semakin menusuk, bahwa laki-laki itu tidak benar, tidak lantas untuk berada di sampingnya, bersamanya apalagi menjaganya.
Lelaki itu sekarang tidak ada baiknya di pandangannya, dia sama seperti laki-laki lainnya, dia tak pantas untuknya. Gadis itu merintih, merintih dalam hati.
"Semua yang kulihat selama ini hanya kacamata indah yang tertutupi kebusukan, namun iya teramu dengan begitu manisnya" gadis itu semakin menjadi-jadi. Berpikir dengan apa yang dilihatnya, apa yang didengarnya.
Tidak lagi memberi ruang untuk laki-laki itu, namun semakin Ia mengingat semakin Ia merasa dan penasaran, apa sebenarnya yang terjadi? Apakah di dunia ini semua laki-laki seperti itu?
Segudang pertanyaan datang dari berbagai bilik, bahkan bilik tetangga pun mulai mempengaruhi pikirannya, mempengaruhi kalau laki-laki itu benar-benar tidak seperti yang di bayangkannya.
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul, hingga waktunya tiba. Gadis itu mulai menyusun rencana untuk menjauh, menjauh dari laki-laki itu. Melupakan perasaannnya, menghilangkan cintanya, hingga berusaha mencari yang lebih pantas untuknya.
Namun, siapa sangka di balik semua yang terjadi pada laki-laki itu, gadis itu ternyata belum paham, siapa sebenarnya laki-laki itu.
Dia, laki-laki itu ternyata penuh dengan sesuatu yang sangat sulit dipahami, laki-laki itu sebenarnya tau apa yang dilakukannya. Namun, demi mencari "keaslian cinta" dia rela berbuat apa saja, mengorbankan segalanya, bahkan niat baiknya pun tertutupi oleh penjelasan-penjelasan orang bodoh, orang yang sebenarnya sangat menyukainya, namun tidak mendapat respon baik, hingga menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan laki-laki itu.
Laki-laki itu sungguh malang, dia harus berjuang sendiri mencari "tahta kasih sayang yang sebenarnya" . Sehingga tidak salah, kdangkala sebagian lelaki menganggap bahwa mahluk yang bernama perempuan, jenis kelamin gadis itu, memang selalu ingin di perjuangkan, selalu ingin di maha-kan, selalu ingin maunya diatas segalanya, yang dipikirkan dan dilihatnya itulah yang "sebenarnya"
Perempuan memang sulit dipahami, kata laki-laki itu dalam hati.
Perempuan ingin semuanya berjalan baik, sempurna, sesuai rencanya. Sehingga Ia kadang lupa, bahwa sesuatu yang sifatnya sejati tidak mudah didapatkan. Sesuatu yang sifatnya indah kelak sangat sulit untuk di perjuangkan, Ia tidak akan datang sendiri, Ia perlu di usahakan untuk di nikmati kelak.
Gadis itu, bingung. Apa yang harus dilakukannya, membuktikan apa yang dilihat dan dengarnya? Iya, tapi kadangkala hatinya menolak untuk bertanya. Benar kata laki-laki itu, perempuan sangat gengsi, gengsi bertanya, gengsi transparansi dalam hal perasaan dan gensi dalam memperjuangkan mimpinya.
Yah walaupun hanya sebagian perempuan, tapi pada dasarnya sifat perempuan seperti itu. Analisis laki-laki itu.
Laki-laki kadang menunggu untuk sesuatu yang tidak pasti, sama halnya laki-laki itu Ia mulai bingung apa yang terjadi pada dirinya?
Apakah ini hukuman atas respon ke seseorang yang minim, cuek? Ataukah laki-laki itu sombong lalu banyak yang membencinya? Hem--ataukah mungkin juga memang perempuan itu yang tidak ingin melihat laki-laki baik.
Entahlah, tapi yang kutau laki-laki itu optimis dan ramah pada siapa saja. Sehingga kadangkala keramahannya disalah artikan seorang perempuan, dan siapa sangka perempuan itu membencinya lalu ingin melihat laki-laki jatuh dengan sejatuh-jatuhnya.
Semoga, ketika ada hal yang kurang jelas baiknya di perjelas, sumber yang valid datangnya dari sumber utama. Bukan kedua, apalagi yang ketiga. Seorang wartawan akan mengidentifikasi masalah sampai keakar-akarnya hingga menerbitkan sebuah berita yang orisinil tanpa gangguan "politik".
Hidup ini tentang tidak "kegensian", tetapi tentang pencapaian, pencapaian akan semua mimpi.
Untuk itu, sangat sulit mendapatkan cinta sejati, sebab untuk meraih predikat "sejati". Tantangan dan rintang yang begitu banyak harus terlewati dengan keringat dan air mata.
Maka, cinta sejati dari dulu sampai sekarang hanya milik "Romeo and Juliet"
Jika memahaminya masih sangat standar...
Perlu pendewasaan yang cukup untuk mendekatinya.
!!!
Previous
Next Post »
Thanks for your comment