Entah, mungkin inilah yang namanya "Bersua dalam Sunyi "

Usahaku untuk mendekatinya, rupanya sangat tidak sia-sia. Aku bahkan tak mampu memahami diriku sendiri atas apa  yang telah aku  lakukan, aku merenungi keadaanku. Bertanya pada diriku sendiri, apa yang sedang kamu tulis? Apa yang sedang kamu kerjakan? Apakah aku baik-baik saja? Hem entahlah aku masih tidak percaya, waktu begitu cepat sehingga "kita tak sempat" bersua lebih lama seperti halnya kencan pertama bagi mereka pemilik pertemuan. [Awal]
Semenjak melihatnya, aku selalu berpikir "tuhan begitu adil" memberiku sosok untuk kembali tersenyum, memberiku alasan untuk tersenyum lebih lama dari biasanya. Yah, walaupun itu kadangkala menjadi bahan candaan "kita". Senyum, sok-sok saling tidak mengerti, namun diam-diam "saling memperhatikan".
Seolah saling cuek, tapi "hati" mengatakan aku butuh kamu. Butuh perhatian darimu. Ingin bersua untuk waktu yang lebih lama, lebih lama dari pertemuan awal kita.
Tapi,
Apa mungkin cuma aku yang merasakan ini, selalu ingin ada didekatmu? Selalu ingin mendengar kabarmu? Dan, selalu ingin bertemu denganmu?
"Semoga kamu juga.!!!" Harapku dalam hati.
Ku susun dan kupikirkan kata-kata terbaik yang membuatmu nyaman padaku, tak peduli siapa yang akan membacanya dan siapa yang akan tau maknanya. Sebab aku bahagia, menuliskan apa yang kurasakan dan memberitahukan itu padamu. [Semoga saja]
Seringkali, ketika berusaha lebih dalam memasuki duniamu, kadang ada rasa takut, takut kamu tidak percaya dengan "apa yang kamu pikirkan" dan juga "apa yang kupikirkan". Takut berbuat lebih banyak dari hanya sekedar •sebagai seorang kakak. Takut kamu berpikir hal-hal tentang duniaku, tentang masa yang telah kulalui.
Iya, itu adalah ketakutanku, sebab aku tak punya banyak waktu untuk menjelaskan padamu "bahwa inilah yang sebenarnya tengah kurasakan". Sangat malu, malu untuk bersua dalam keramain dengan posisiku yang tak punya apa-apa untuk kau dambakan dan kau ceritakan ke teman-teman mu kelak. Yah -__- aku tidaaak lebih dari seorang manusia yang tidak tau apa-apa tentang makna kehidupan. Apalagi tentang perasaan -__-
Namun, semakin dalam aku merasakan ketakutan ini, rupanya benar apa yang ku prediksi benar terjadi. "Kamu" bahkan menganggap apa yang aku lakukan terhadapmu hanya karena kewajibanku semata sebagai seorang yang lebih tau secara teori, tidak lebih. iya benar. Kamu bahkan tidak pernah memperlihatkan dari sudut pandang "rasa" akan apa yang tengah kau pikirkan.
Kamu diam-diam, dan aku merasa diammu itu memiliki makna dan membuatku sulit untuk memahaminya.
Entahlah, aku kurang paham tentang "memahami" atau aku yang kurang "peka" terhadapmu? Ataukah aku terlalu sibuk dengan duniaku -___-
Mungkin, hanya tuhan yang tau masing-masing dari apa yang kita rasakan.
Semoga selalu yang terbaik "buat kita"
Aku bahkan selalu teringat kisah romantis "Habibie dan Ainun" ketika menatap wajahmu di layar smartpone-ku. Aku tak sanggup untuk mengatakan semua yang tengah kuhadapi, walau ku tau perlahan-lahan kamu sebenarnya tau akan diriku.
Aku takut terlalu asik dengan duniaku, sehingga mengabaikan apa yang akan menjadi tanggung jawabku, walau hanya seorang "kakak" yang kadang-kadang sedikit nyeleneh bahwa "kita seumuran" hemm ----
Iyaaa, kamu terlalu manis jika kutatap terlalu lamaaaaa.
Kamu memiliki aura yang berbeda, senyummu seolah berkata "bidadari itu tidak lebih manis dari aku"
Kamu punya karakter yang selalu optimis tentang pencapaian sebuah tanggung jawab.
Kamu orang yang selalu ingin membuatku tersenyum saat berangan-angan tentang masa depan yang lebih jauh.
Kamukah orang yang aku cari?
Kamukah bidadari yang sesungguhnya?
Aku akan mecari jawabannya sendiri "jika pintu rumahmu kamu buka". Hihi
Kumohon biarkan aku masuk, sebagai orang yang egois yang ingin tau kamu lebih dalam.
Yah sebut saja,...
Aku terlalu lebay untuk menyimpulkan bahwa "kita" adalah sebuah masa depan yang terangkai dengan baik.
Kita adalah sepasan insan yang saling berteriak di kesunyian. Yang mana hanya orang terdekat kita yang tau.
Yah, setiap perbuatan, pasti akan berdampak. Apalagi jika itu tentang sebuah perasaan. Yakin "kita" akan merasakannya, walau selihai apapun kamu menyembunyikannya.
Tetap akan terlihat, begitupun dengan aku -__-
Semakin lama, semakin panjang tulisanku ini. Tapi aku belum juga paham alur yang kutuliskan ini, semoga aku yang tidak mengerti ini. Bisa kau beri pengertian tentang makna diriku "BERSUA DALAM SUNYI".
Sebab, itulah aku. "kurang peka". Kata orang dan mungkin juga kata kamu.
Tapi, terlepas dari "kurang pekanya" diriku.
Aku ingin kau tau. Bahwa semua orang memiliki aktifitas, pekerjaan, kesibukan dan kisah cinta yang berbeda-beda. Namun, ada satu yang "sama", semua orang berhak untuk mendapatkan apa yang iya inginkan.
Mencintai dan dicintai "itu" tentang perasaan.
Memiliki dan dimiliki "itu" tentang cinta.
Dan, saling bersua untuk memahami masing-masing "itulah" kepemilikan sejati yabg sesungguhnya.
Seperti halnya kata Habibie ke Ainun.
"
Ainun...
Masa lalumu adalah milikmu,
Masa laluku adalah milikku,
Tetapi masa depan adalah milik kita.
"
Semoga aku tidak salah kutip, sebab kesalahan adalah milikku yang tidak akan kuulangi dua kali.
Kalau diulangi dua kali, apalagi di tambah itu mah jargonnya pak walikota .wkwkwkw
"Makassar 2 × + Baik"
"Ingin melihatmu lebih lama - atur waktumu"
00:44 wita.
~Yaya Nouht
Previous
Next Post »
Thanks for your comment