Kata Senior Ini Budaya Kampus



Foto : news.okezone.com


Pernah tidak kamu membayangkan masuk pada sebuah komunitas atau daerah, lalu didalam kamu melihat berbagai macam sifat, perilaku dan model yang sangat beragam. Lalu salah seorang mendekatimu dan mengatakan, apa yang kamu lihat itu adalah budaya di daerah sini. Namun, kamu tidak langsung mempercayai orang itu, karena dalam pikiranmu ada banyak  hal yang sama, sama seperti daerah lain yang benar-benar mirip dengan kondisi yang sedang kamu lihat sekarang. Kebutuhan akan informasi yang kamu inginkan membuatmu terus mencari tau, hingga akhirnya ada seseorang yang  menyeret kamu dan memperlihatkan yang “katanya” sesungguhnya inilah deskripsi dari bagian kecil yang kamu lihat beberpa hari ini semenjak bergabung dan masuk didaerah sini. Pola pikirmu mulai terbuka, benar apa yang saya lihat adalah kebiasaan yang sering terjadi ketika ada orang baru yang masuk di daerah tersebut. Disamping kamu berpikir apakah ini benar-benar budaya, ada bisikan lain yang mengatakan bahwa apa yang kamu lihat itu bukan budaya, melainkan aturan yang dibuat yang didesain dengan sebaik-baiknya, sehingga orang diluar taunya bahwa ini adalah budaya.

Ketika dua pikiran yang datang, dan kamu mau menyimpulkan sebuah keadaan. Lantas kamu baru saja mengetahui sedikit dari banyaknya informasi yang belum kamu dapat, maka terjadi kebimbangan yang luar biasa pada dirimu. Haha

Jadi apa yang akan kamu lakukan ? apakah menolak apa yang dikatakan orang tadi atau malah sebaliknya, menerima dan ikut melakukan hal itu ?

Banyak cara yang mungkin kamu bisa lakukan, bisa saja kamu berpura-pura menerima, menerima tapi tidak sesungguhnya menerima, menolak atau acuh saja dengan orang itu ?
Namun pertanyaanya apakah kamu setuju dengan hal semacam itu ? 

Entah, saya tidak menyarankan kamu harus setuju atau tidak. Sebab pola pikir kita berbeda-beda menanggapi dan mendefenisikan sesuatu. Ketika diawal kamu telah mendapatkan warisan pola pikir yang ditularkan para pendahulumu atau dalam ranah kemahasiswaan yang sering disebut senior, maka dengan sendirinya pola pikirmu akan sesuai dari apa yang telah ditularkan seniormu tersebut. Mungkin seringkali kita mendengar aturan yang bunyinya seperti ini :

Aturan Pertama, bahwa Pasal 1 “Senior itu tidak pernah salah”. Pasal 2 “Jika senior salah maka kembali ke Pasal 1”. Aturan semacam ini juga merupakan sebuah usaha dalam membentuk pola pikir pada seorang junior, jikalau seandainya seorang junior acuh tak acuh mencari informasi selain dari informasi yang diberikan seniornya. Maka yakin dan percaya kalau junior tersebut telah menjadi pengikut seniornya dan seniornya juga telah berhasil membentuk pola pikir juniornya untuk memiliki pandangan yang sama terhadap pendefenisian sesuatu.

Aturan Kedua, Aturan ini merupakan ekspektasi lebih lanjut dari aturan pertama, sebab hal yang sering terjadi adalah seorang senior selalu “maha benar”. Anggapannya bahwa jika kamu adalah seorang junior maka bagaimanapun kamu harus taat pada seniormu. Lantas bagaimana jika seorang senior menyuruhmu berbuat hal-hal aneh yang melanggar aturan akademik atapun hak-hakmu sebagi seorang mahasiswa ? Menyuruhmu mengerjakan tugasnya, mengumpulkan dana dengan alasan nongkrong bersama, membatasi ruang gerakmu dalam kampus (kamu tidak boleh keruangan itu, karena itu ruangan khusus untuk senior, kamu besok tidak usah pakai baju itu yah karena terlalu mencolok, celanamu ganti dong karena ganggu penglihatan saya, gaya rambutmu besok kamu harus ubah, eh kalau bicara sama seniormu tunduk sana, apa kamu melawan ? ) wkwkw. Mungkin saya yakin jika anda pernah menjadi seorang junior 80% anda pernah mengalami hal tersebut. Pertanyaannya ? apakah tindakan semacam ini merupakan hal yang benar ? sebagian besar jika kamu seorang junior pasti kamu akan mengatakan hal itu tidak benar, sebaliknya jika kamu seorang senior mungkin saja jika pola pikir yang sedang kamu pakai adalah warisan, maka kamu akan mengtakan hal itu sah-sah saja.

Aturan Ketiga, Budaya kampus. Kenapa ? Apa itu budaya kampus. Hem -_- ....Pada alinea sebelumnya saya telah sedikit menyinggung mengenai budaya. Beberapa aturan muncul memang disebabkan pada kebiasaaan-kebiasaan mahasiswa para pendahulu kita yang mewajibkan kita untuk mempercayai hal tersebut “katanya”. 
Namun, bagaimana jika budaya itu berbeda dengan gaya sehari-hari kita ? jauh sangat berbeda. Kemugkinan-kemungkinan yang bisa terjadi adalah bisa saja kita malas ke kampus, malas belajar, stress, menyendiri, dan bahkan memutuskan untuk keluar dari kampus tersebut. Kenapa ? karena kita merasa hal ini sangat jauh dari apa yang saya pikirkan sebelumnya dan kita tidak bisa mengembangkan passion kita dengan kondisi seperti itu. Jika pendirianmu kuat untuk mencapai mimpimu, maka keputusan untuk keluar kampus dan berpindah ke kampus lain memang adalah hal yang tepat. Akan tetapi, pada situasi lain kamu dianggap seorang pengecut jika tidak bisa menghadapinya, hemmm -_- .Tentu saja kita akan merasa serba salah dengan hal tersebut.

Beberapa aturan diatas, apakah kamu pernah mengalaminya sebagai seorang junior ? atau pernah mempraktekkannya sebagai seorang senior ? haha
Entah apa yang akan kamu lakukan jika mendapati hal tersebut, tetapi saran saya kamu harus menjadi orang yang berilmu, konsisten, amanah dan bertanggung jawab. Setelah hal tersebut kamu capai maka kamu akan mengatakan semua hal diatas setelah kamu lewati, bahwa hal tersebut adalah bagian dari “Dinamika Kampus”. Lantas apakah kita setuju atau tidak ? Bagaimana cara kita menghadapinya ? Apakah semua senior seperti itu ? Apakah anggapan junior seperti itu ? Tunggu Jawaban di tulisan selanjutnya, hehehe :) 

Tetap semangat sebagai seorang mahasiswa, posisikan dirimu layaknya mahasiswa sejati yang benar-benar ingin membuat sebuah perubahan dengan aturan yang telah ada “bukan aturan yang dibuat-buat”. Sebab menjadi seorang mahasiswa, setiap masa berbeda cerita, berbeda pengalaman dan berbeda output yang kita raih.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment