Galery Foto Yaya Nouht

Go to Social Media IG : @yayanouht

Galery Foto Yaya Nouht

Go to Social Media IG : @yayanouht

Galery Foto Yaya Nouht

Go to Social Media IG : @yayanouht

Galery Foto Yaya Nouht

Go to Social Media IG : @yayanouht

Galery Foto Yaya Nouht

Go to Social Media IG : @yayanouht

Selasa, 11 April 2017

Tawuran Baik, Prestasi Buruk

Aneh atau tidak, kedengarannya memang aneh jika harus disandingkan apalagi untuk di bandingkan antara tawuran dan prestasi, bayangkan saja jika keduanya bisa berimbang atau prestasilah yang lebih ditonjolkan dimana-mana. Iya, kusebutnya dimana-mana supaya terlihat atau paling tidak on the way viral.

Ketika sesuatu itu bersifat prestasi, sangat sulit mendapatkan ruang untuk di sampaikan ke publik. Ini loh yang kami dapatkan, beginilah output dari hasil bapak/Ibu mendidik kami. Sulit, sukar dan tidak mudah, kami anggapnya seperti itu, untuk menjual dan memahamkan kepada khalayak, tidak segampang mengundang mereka untuk datang pada saat terjadinya tawuran.

Tidak ada niat lain, bahwa tidak semua yang ada dibenak anda itu seperti itu, itu bagian terkecil saja. Kuharap anda mengerti dengan kata-kataku yang tidak beraturan sama sekali.

Di kesempatan yang sama, disaat teman-teman lagi berjuang membawa nama baik identitas mereka juga sibuk bagaimana memuaskan diri untuk membuat identitas itu terpojok, buruk bahkan hina dipandang oleh suatu kelompok tertentu.

Nah, kelompok tertentu ini wajar menilai hal itu, mereka punya bukti dan data yang cukup akurat untuk membuktikan realitas yang terjadi. Jadi, wajar saja.. Ketika identitasmu mulai melekat, lalu kamu berjuang masuk pada kelompok tertentu. Kamu anda malah tidak diterima, kenapa? Sekali lai wajar yaa menurut saya. Itu, karena ulah ketidaksantunan anda menjaga nama baik sendiri.

Menyesal, mungkin iya..!!! Berpuas diri, mungkin juga iyaa..!!! Yah, cukup kami yang merasakan bagaimana positif dan buruknya apa yang telah anda perbuat.

Dengan modal nekat didukung kebobrokan moralitas, sekali lagi mereka telah berpuas diri. Hari ini mereka menang, melihat kiri kanan, atribut alam melayang-layang, fasilitas umum seolah berteriak, JANGAN, Aku Tidak Salah Apa-Apa.... Atlet panahan muncul dimana-mana, entah kapan mereka latihan, rupanya ia sangat mahir memainkannya.

Bahkan, oknum ilmuan yang salah fungsikan keahlian merakitnya, hingga mereka yang pura-pura feminim disaat kondisi tengah tak bersahabat, mereka tetap seolah sahabat yang baik.

Sungguh, sebuah ilusi drama yang indah, hanya saja sutradaranya kurang pandai dalam menulis naskah, akibatnya kadang aktornyalah yang disalahkan.

Siapa sangka, semua terjadi begitu saja, ada alur ada gerbong dan ada waktu kapan itu dihentikan.

Mereka yang tidak tau apa-apa, mereka sedang berjuang mengasah otak sesuai bidang ilmunya, Dan, mereka mulai terusik. Mereka sesekali kadang memikirkan, mungkin inilah yang sulit untuk dipahami. Tapi sulit atau tidak, mereka tidak menerima hal seperti ini. Mereka tetap belajar sementara film masih berlangsung. Film dengan naskah dan kameramen yang tertata dengan baik.

Dan, siapa yang akan disalahkan? Pembuat naskah? Aktor? Figuran? Atau mereka yang terlalu cepat berjuang mencari identitas yang baik?

Aku dan saya juga kurang paham, hanya saja paling tidak saya mengajak anda, anda dan kamu untuk bertindak atas dasar prakarsa bermanfaat atau tidak.

Bermanfaat yang disifatnya positif (jangan sampai di plesetkan lagi kan?)

Saya rasa anda paham, sesekali orang tua anda bilang kamu sudah tua, besar dan dewasa nak. Kamu tau mana yang baik dan mana yang buruk, saya yakin kamu bisa melakukan yang terbaik buat dirimu dan orang sekitarmu.

Tawuran = Baik
Prestasi = Buruk

(Melihat pas bunga yang cantik, bisa dinilai dari berbagai sudut).






Beroganisasi itu istimewa, Bukan?

Beroganisasi itu istimewa, Bukan?

Sadar atau tidak sadar, bersosialisasi dengan baik ke masyarakat telah menjadi iming-iming yang ingin di miliki oleh siapa saja. Yup, kita sadar sebagai makhluk sosial, sudah menjadi kodrat bagi kita untuk saling bertukar asa, rasa dan kondisi yang saling membuat kita nyaman.

Tidak ada harapan lain, selain ingin saling menguntungkan ditiap keadaan yang terjadi pada kita. Semua proses dan kejadian bahkan menjadi saksi dan bukti yang selayaknya kita pertimbangkan untuk siapa dan kepada siapa kita ingin berlabuh. Itu, sulit kita raih.

Miniatur kehidupan dan ranah kerja untuk belajar bersosialisasi dengan masyarakat akhir-akhir ini semakin populer dan dipopulerkan oleh pemuda itu sendiri.

Popularitas itu mulai muncul sejak masa reformasi, berbagai eksistensi pemuda di munculkan dengan bergabung pada sebuah kelompok untuk saling berdiskusi dan mengutarakan ide-ide positifnya.

Rasa persatuan diantara mereka begitu kuat, seolah tak ada yang lebih hebat dari mereka. Dan, benar mereka adalah yang terhebat sebagai generasi penerus dengan bermacam karakter dan cara bersosialisasi yang berbeda-beda.

Bahkan, kadang kekuatan kelompk mereka dijadikan sebagai alat untuk memanipulasi sebuah kondisi, yang pada akhirnya merugikan dan sesekali menguntungkan bagi mereka.

Kebebasan mengutarakan pendapat yang muncul pada undang-undang setelah runtuhnya rezim kala itu,  membuat mereka semakin berada diatas angin. Peluang akan bergerak dan berkolompok lebih luas, mereka leluasa untuk saling baradu ide, taktik dan strategi untuk memenangkan kelompoknya.

Organisasi, itulah yang mereka kejar. Mereka berebut jabatan, demi eksistensi dan menjadi yang utama dalam sebuah rumpung yang menurut kelompoknya Hebat.

Saling mendukung dan menjatuhkan terjadi disaat yang bersamaan, penuh misteri dan itulah strateginya, memecahkannya untuk dianggap sebagai pahlawan dan penyelamat budaya dari hanya sistem yang sebenarnya mereka buat. Kadang, mereka lengah, hingga tak sadar bahwa taktiknya jauh-jauh telah kalah, prosesnya yang akan disalahkan? Tidak, itu pembelajaran dan pengalaman yang luar biasa.

Silit dimengerti, yup. Itulah organisasi zaman sekarang. Ada yang bergerak untuk eksistensi semata, mencari popularitas, bergerak untuk bermanfaat, aksi nyata dan semua jenis yang menyatakan diri untuk berkolompok dan menyusun sebuah tujuan yang positif.

Iya, tujuannya memang positif. Tapi, kadang kita luput, meraih tujuan itu, ada banyak yang sibuk dengan proses/sistem yang terjadi. Dia lupa, bahwa proses ini adalah cara yang di tempuh untuk meraih tujuan organisasi.

Tidak sedikit yang berpikiran dan terlena dengan situasi semacam itu, wajar saja. Organisasi-organisasi yang muncul kadang adalah back up dari munculnya isu untuk "tujuan tertentu"

Memilih jalan untuk berorganisasi memang patut diacungi jempol, analisis yang kuat tidak hanya menghasilkan kesimpulan tunggal semata, organisasi adalah proses mereka belajar menganalisis untuk menciptakan setiap bagian dari peran yang dijalaninya.

Istimewa, lebih tepatnya. Hanya itu yang pas menurutku. Berorganisasi itu istimewa, bukan?

Sebab membuat kita bingung, dan kebingunan itu adalah proses analisis yang menghasilkan analisis yang beragam. Simpulkan dan nikmati hasil ala sistem organisasi yang kamu buat.

Senin, 20 Maret 2017

Pendiri Gerakan Sinjai Muda dalam Berita

Pendiri Gerakan Sinjai Muda dalam Berita.

Semoga, setiap mimpi anak muda mampu menggerakkan perubahan, mari beri dan perlihatkan aura positif untuk mewujudkan setiap mimpi saaudara kita disana. - nurhidayatullah

Media Celebes Online :
http://www.celebesonline.com/2017/03/21/demi-pemerataan-pendidikan-pemuda-sinjai-mengabdi-selama-1-bulan-di-malaysia/

Media Suara Info
http://suarainfo.com/ternyata-bengini-kisah-pendidikan-anak-tki-di-malaysia/

Media Breaking Sulsel
http://www.breakingsulsel.com/artikel/274-demi-tki-pemuda-asal-sinjai-mengabdi-selama-1-bulan-di-malaysia

Media Bugis Warta :
http://www.bugiswarta.com/2017/03/demi-tki-pemuda-sinjai-mengabdi-selama.html?

Media Bone Pos :
http://www.bonepos.com/2017/03/demi-tki-pemuda-sinjai-mengabdi-selama.html

Media Compak Sulawesi
http://www.compaksulawesi.com/submit-an-article/news/demi-tki-pemuda-sinjai-mengabdi-selama-1-bulan-di-malaysia-2

Media Kabar Selatan :
http://kabarselatan.com/demi-tki-pemuda-sinjai-mengabdi-selama-1-bulan-di-malaysia/

Media Biringta Makassar :
Demi TKI, Pemuda Sinjai Mengabdi Selama 1 Bulan di Malaysia http://biringtamakassar.com/demi-tki-pemuda-sinjai-mengabdi-selama-1-bulan-di-malaysia/

Media Berita Ini :
http://beritaini.com/demi-tki-pemuda-sinjai-mengabdi-selama-sebulan-di-malaysia/

Media Titah Timur :
Prihatin Nasib Pendidikan Anak – Anak TKI, Pemuda Sinjai Terbang ke Negeri Jiran - http://www.titahtimur.com/2017/03/20/prihatin-nasib-pendidikan-anak-anak-tki-pemuda-sinjai-terbang-ke-negeri-jiran/

Media Center Sinjai :
http://mediacentersinjai.blogspot.co.id/2017/03/putra-sinjai-ini-motivasi-pemuda.html?m=1

Semoga nuraninya terketuk untuk membantu saudara kita yang tengah berjuang merasakan nikmatnya ilmu di luar Indonesia sana.

Sabtu, 11 Maret 2017

Hujan di Sore Hari

Hari Minggu? Iya betul, hari ini hari libur. Hari yang ditetapkan secara nasional sebagai hari libur untuk seluruh jenis pekerjaan di Indonesia. Tapi, bukan masalah kerjaan apa yang libur dan tetap bekerja hari ini, tapi ini tentang hari-hari yang aku lalui di hampir tiap akhir pekan.

Aku mulai merenung, diusiaku yang terbilang cukup dewasa ini, dipenuhi beribu pertanyaan yang muncul tiap hari. Aku bingung kemana akan melangkah setelah semua ini, apa yang akan terjadi setelah seperti ini. Entahlah, semua yang terlintas hanya kebingunan ketika hendak menafsirkan maknanya. Namun, aku merasa selalu beruntung, selalu ada tuhan yang menjawab setiap kebingunanku. Walau semua jawaban yang muncul, tersisa semangat dan tekad untuk terus berjuang.

Dibalik bingungku hari ini dan hari-hari sebelumnya, tersimpan semangat seperti pelangi yang selalu muncul ketika hujan reda, ia muncul memberi warna, memberi senyuman disekitarnya. Bahwa tenang, setelah hujan akan ada pelangi.

Ia meyakinkanku tentang indahnya sesuatu setelah ada kejadian. Dan, aku sangat yakin akan hal itu. Aku kembali bersemangat ditengah selimut kegelisahanku meratapi tiap tetes hujan yang jatuh di atap rumah. Seribu pertanyaanku terjawab diam-diam. Aku berdalih, sebenarnya aku dan semua orang yang bernasib sama denganku memiliki solusi atas apa yang sedang dialaminya, ia tau mana yang terbaik. Tapi kebanyakan dari mereka adalah ahli dalam menyimpannya, mereka enggan, gengsi untuk mengingkapkannya. Apalagi jika itu berkaitan dengan perasaan, aku yakin dibalik kata "ini yang terbaik" ada rasa menolak dan ingin lebih indah dari itu. Dan, dia tau harus berbuat apa, tapi.. lagi-lagi rasa malu (atau sejenisnya) mengalahkan keinginan terbaiknya lalu menunggu, menunggu, menunggu dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aku berpikir, dibalik keadilan tuhan memberikan nikmat "perasaan" ke hambanya, rupanya ada banyak rahasia yang tidak terpecahkan. Tuhan meciptakan dinamika yang indah disetiap pemilik "perasaan" itu.

Aku menganalisa tiap kejadian dan tanda yang diberikan tuhan. Aku tau dibalik rahasia yang tidak terpecahkan itu, Ia memberi tanda. Tanda yang hanya aku bisa dapatkan ketika berusaha mencapai setiap tanda-tanda itu.

Namun, kadang aku acuh menganalisanya, aku ingin hidupku seperti yang lainnya. Hidup dengan nyaman, berjalan dengan santai, tanpa beban pikiran akan hidup yang kujalani. Hal itulah yang meracuni keindahan analisa kehidupanku, itu semua aku buang jauh-jauh. Aku memikirkan yang tidak orang lain pikirkan, aku memikirkan setelah ini apa yang bisa aku perbuat demi kenyaman orang-orang sekitarku.

Hmm... derasnya hujan sore ini semakin membuat pola pikirku lebih jernih dan tajam menganalisa setiap kejadian yang kualami. Akankah kemudian kelak, semua mimpi yang kutuliskan dapat terwujud? Aku selalu yakin, semuanya akan tercapai. Tapi, jujur aku mulai goyah akan motivasi, aku mulai merenung tentang imajinasi mimpi yang kubangun, aku bingung dengan orang-orang disekitarku, aku lelah menjalani alur hidupku diatas banyak kepura-puraan.

Ada banyak hal, tekad dan usaha yang kususun sedikit demi sedikit, mulai ku lakukan dengan secercah kalimat demi kalimat, kurangkai satu persatu. Dan aku yakin, "USAHA" adalah penentu dari semua yang terjadi didunia ini.

Analisaku dari belbagai sudut pandang, inilah ujungnya "usaha". Tapi, kadangkala ada yang salah menafsirkan usaha itu seperti apa. Apakah diam dan mengikuti alur kehidupan yang terjadi itu adalah usaha? Menjalani sesuatu dengan kewajiban masing-masing dan mengjiraukan banyak hal pribadi adalah usaha? Apakah memutus silaturahmi dan berharap dikemudian hari aka  kembali indah adalah usaha? Apakah berangan, dengan keyakinan semua telah diatur tuhan adalah usaha? Apakah semua yang terjadi adalah takdir tuhan, dan kita memaknainya sebagai usaha?

Banyak yang beranggapan bahwa itu semua adalah usaha. Namun, itu semua salah. Kenapa ? logikanya sederhana "mungkinkan aku diam, bekerja dan melakukan semua kewajibanku? Itu adalah takdir tuhan? Aku jadi polisi Itu adalah takdir tuhan? Aku mahasiswa itu adalah takdir tuhan? Aku bermusuhan dengan sahabatmu itu adalah takdir tuhan? Aku berpisah dari kekasihku itu adalah takdir tuhan?

Yah, semua itu tercapai dan terjadi atas usaha yang kita lakukan. Aku yakin setiap prestasi yang dicapai adalah hasil usaha yang maksimal, dan setiap masalah yang datang adalah hasil usaha yang keliru; Dan, kekeliruan itu perlu diperbaiki untuk menciptakan sebuah usaha yang indah.

Setiap mimpi pasti menuai masalah dan rintangan yang beragam. Dari dalam, dari luar, dan dari manapun. Kesemuanya jika terlewati dengan baik, berusaha memperbaiki kesalahan, memaafkan yang salah, mengubah hal negatif menjadi positif.

Yakin, senyuman indah akan menunggumu.

Seperti hujan yang datang, mengubah kering menjadi basah, beragam masalah sekaligus solusi yang muncul akibat hujan. Namun, setelah tu muncul pelangi yang indah untuk dinikmati banyak spesies.

"Kebersamaan yang indah, adalah kebersamaan yang berkesan tanpa mengenal kenangan".

Senin, 06 Maret 2017

RIYAD : The a Team

*RIYAD

4 tahun yang lalu, kami adalah tim yang berjuang melawan bullyng, berjuang belajar demi prestasi, berjuang ditengah keterasingan bahasa. Kami berasal dari berbagai daerah yang berbeda-beda, kami berbeda dengan yang lainnya (itu yang menjadi identitas kami).

Hingga saat ini, beragam hal telah kita lewati, berubah pada berbagai hal, kita semua telah sibuk, hingga kadang lupa untuk bersua di tengah kerinduan.
Namun, rasanya tak mungkin lagi kita bertemu lengkap, seperti mereka yang mengatakan dirinya sahabat, menobatkan dirinya untuk saling mencinta.

RIYAD tetap RIYAD, walau salah satu dari kami tak mampu lagi mewujudkan mimpinya. Iful.... Kami yakin kamu telah tenang di alam sana, kami berempat akan melanjutkan perjuangan ini untuk mimpi yang telah kita bangun bersama.
Kami yakin, kami akan berusaha semampu kami (kesuksesan kami semua adalah kebahagian kita semua).
Bismillah...

Kembali bernostalgia, RIYAD adalah sebuah nama dari singkatan nama kita berlima, pagi, siang hingga malam tanpa kendaraan, kami menyisiri kota kecil tempat kami menuntut ilmu.

Mencari sebuah makna tentang menjadi siswa yang rajin belajar, siswa yang berprestasi dan siswa yang unik dari yang lainnya. Unik dari segi penampilan, cara berkomunikasi hingga prestasi yang kami raih.

Kadang, diantara kami ada yang saling berseteru, saling mencaci, bahkan hendak memutuskan tali silaturahim diantara kami. Namun, semua itulah yang membuat kami semakin dinamis dalam berteman.

Kalau orang bijak berkata "semua yang kita alami adalah anugrah dari tuhan, untuk itu perbanyak syukurlah kepada-Nya". Maka hampir semua masalah dan pengorbanan yang kami alami, kami nikmati dan kami kenang sebagai sebuah kisah tentang lima anak muda yang akan mewujudkan mimpi-mimpinya.

Dulu, kami sangat yakin bahwa kelak berlima kekuatan kami tak tertandingi, kami sering berangan-angan tentang mimpi yang kami kejar, sesekali kami berdalih bahwa apa yang kami pikirkan adalah hal-hal gila, tetapi sesering itu pula kami yakin bahwa kami tidak sendiri,  kami berjuang bersama.

Hingga suatu ketika, di malam yang tak satupun dari kami yang saling tau berkabar, kami salig sibuk atau lebih tepatnya tidak ada waktu untuk bertemu. Yah, kami masing-masing disibukkan dengan tuntutan tugas kuliah yang harus segera dituntaskan.

Kami tidak sadar, sudah lama kami tidak bertemu, sudah lama kami menyimpan rindu untuk bersama tertawa membahas hal tak berguna lainnya yang membuat tawa lepas diantara kami, menghilangkan beban, plon dan kosong, kira-kira seperti itulah perasaan kami ketika ngumpul lengkap.

Dan, malam itu saya dikagetkan dengan sebuah pesan pribadi salah seorang teman yang menuliskan belasungkawa diikuti foto profil yang dipasang seorang anak muda dengan impus mata tetutup diam pucat (akibatnya saya kurang mengenali wajahnya).

Usut punya usut, tanya sana sini via telfon dan akhirnya terjawab, kalau orang yang ada di dp itu adalah salah seorang dari kami berlima. Siapa sangka, kami bertemu lengkap itu sudah terbilang sangat lama, kami lupa kapan terakhir ketemu.